Pamit Pergi Mengejar Mimpi, Pulang Sudah Tak Bernyawa Lagi

Degh..
Setiap terjadi jabat tangan di kerumunan dasi ungu itu, ada yang memantik percakapan. Mulai dari nama, asal hingga mengapa. Dari berpuluh jabatan yang menempel, lebih banyak yang mengira delapan huruf yang kusebutkan itu berada di papua, kalimantan hingga sulawesi sana. Aku hanya bergumam, " semoga suatu saat delapan huruf itu akan diketahui banyak orang ".
Benar saja, setelah 2 tahun lalu terdengar " nyala untuk yuyun ". Kini layar serta suara kotak hitam itu mencuitkan delapan huruf itu kembali. Dengan kejadian yang tak jauh berarti.
Coba bayangkan, jika pagi tadi si anak masih mencium tangan. Berbaju rapi berwarna abu, menyantap masakan ibu lalu meminta uang saku. Dan beberapa esok ditemukan tak berbaju, bukan lagi tak berbaju namun tak bernafas atau hanya sekedar berkata  "aku pergi dulu ayah ibu". Sudah jelas orang tua yang di cium tangannya tiap waktu, tak henti menyalahkan diri mengapa bisa seperti ini.
Sebenarnya aku tak detail apa yang terjadi, namun beberapa hari yang lalu ibuku terus mengirimi cerita siswa Sma itu, memastikan aku tetap menjalin pertemanan dengan ornag tepat hingga jam kepulangan yg tak boleh larut. Dari cerita itu aku coba mencari ceritanya di laman google, hingga Bc yang tak tahu validitasnya.
Mungkin, ada beberapa versi yang berbeda.
Namun, ada hal yang menarik perhatianku. Siswa tersebut dibunuh oleh mantan pacar ( yang sekarang kakak adikan) begitu cerita yang tersebar. Kemudian menurut keterangan pelaku mengambil handpone dan cincin milik korban yang kemudian dijual untuk membayar kosan. Jadi, apakah hanya masalah ekonomi yang menjadi motif pelaku tersebut? Aku mengira ada juga masalah asmara yang belum usia juga. Atau pelaku tertekan karena ayah bunda sudah tak seatap ?
Dari kejadian itu. Tak perlu menyalahkan sekolah atau lembaga manapun. Sekolah juga takkan menjadi lembaga penumbuh karakter yang baik jika dalamnya sendiri tak pernah ikut aksi( keluarga) menduduki komponen awal kembang baik. Coba sesekali para orang tua tak hanya tau nilai anak berapa, namun juga mengerti bahwa anaknya sedang begalau atau sedang berteman dengan siapa? Tapi, dengan cara yang remaja. Agar anak tak salah mencari teman mencurahkan isi hati atau bingung kemana berbagi.

Comments

Popular posts from this blog

ZERO WASTE CHALENGGE , dimulai dari dirimu

Mencari tahu kelebihan sebagai Kekuatan

Hidup bahagia ? kurangin yang nggak penting