MIXAGRIB, PENYAMBUNG PERJALANANKU



Pagi-pagi buta aku sudah berada di pesawat untuk terbang menuju Bandara Ngurah Rai, Denpasar Bali. Mau kemanakah kita ? ke Bali, eh bukan kami berdua hanya transit beberapa jam saja. Perjalanan kali ini berdua dengan teman baru kenal, kak Alya aku memanggilnya. Kami berdua merupakan salah satu delegasi “ Sasambo Greeneration “ dari Yogyakarta.


Kurang lebih 1 jam di pesawat, rodanya pun menyentuh aspal di Bandara Ngurah Rai. 

Rahajeng rauh di Bali. 

Kemudian dilanjutkan menuju ruang transit, setelah menunggu beberapa jam permohonan maaf terdengar, sudah tahu apa yang terjadi ? ya pesawat mengalami keterlambatan kedatangan yang menjadikan kami harus menunggu kembali.

Berangkat dari Jogja pagi, sekitar pukul 21.00 kami baru sampai di Lombok Utara tepatnya Pantai Klui. Setelah registrasi kemudian dilanjutkan dengan ramah tamah dengan peserta lain. Pukul 23.00 baru bisa merebahkan tubuh di tenda yang dihuni 2 orang, karena konsep camping. Desiran gelombang cukup kencang, angin laut juga tak kalah kencang. Namun, badan yang lelah ini harus segera direbahkan agar tak tumbang keesokannya, masih 2 malam 3 hari lagi berada di sini.

Sekitar jam 03.00 pagi  aku terbangun, ada yang menetes dari atas tenda, rupanya air hujan sedang turun dan kami lupa menutup jendela tenda. Sebagain baju diatas koper sedikit lempab terkena tetesan air hujan. Kurang istirahat dibarengi cuaca yang dingin karena hujan, kepalaku sudah mulai pusing disertai tenggorokan yang sakit. Aku sudah terbiasa dengan tanda-tanda seperti ini, biasanya aku hanya akan istirahat lebih lama dan minum air hangat disertai perasan jeruk nipis. Namun karena kondisi camping tanpa ada alat masak akan susah dalam mendapatkan air hangat dan jeruk nipis akupun harus mencari alternatif lain.

Setelah pagi datang, aku mengajak teman setenda untuk keluar mencari warung terdekat. Kamipun menemukan warung setelah keluar dari bibir pantai.

mbak, ada obat pusing sama flu nggak ?” akupun bertanya kepada penjualnya

obatnya mau apa mbak ?” penjualnya pun balik bertanya

Kemudian, aku melihat-lihat sambil berpikir kira-kira apa ya. Ada pikiran yang lewat di kepalaku,saat menunggu di bandara aku melihat TV iklan obat yang menggambarkan keragaman budaya dan artisnya idolaku . Tapi, aku lupa nama obatnya.

itu lo mbak yang iklannya ada silat, mbatik ?” celetukku dengan kebingungan

obat apa ya, ( hening, ikut berpikir ), oh yang ada laudya itu ?” penjulanya menjawab dengan semangat

nah iya mbak, bener “ ikut senang penjualnya setelah berhasil menebak.

itu namanya MIXAGRIB “ seraya memberikan kepadaku.



Karena penjualnya tahu kalau aku minta yang pusing dan flu, dia pun memberikan MIXAGRIB yang bungkusnya berwarna kuning dengan sedikit hijau. Setelah ikut pusing mencari-cari nama MIXAGRIB , akupun kembali ke tenda untuk meminum obat tersebut. Kegiatan menuju pusat kerajinan gerabah akan dimulaii pukul 09.00jadi aku masih mempunyai waktu sekitar 30 menit untuk tidur, agar saat kegiatan pusing sedikit menghilang dan flu tidak jadi datang.

Pukul 10.30 kami sampai di pusat kerajinan gerabah tepatnya Desa Banyumulek. Di sana kami tidak hanya melihat prosesnya, tapi kami juga merasakan langsung bagaimana cara membuatnya. Kami pun berbincang-bincang dengan masyarakat sekitar yang didominasi ibu-ibu

pembuatan gerabah

Setelah melakukan beberapa macam kegiatan selama 3 malam 4 hari, tiba saatnya malam perpisahan. Keesokkannya, kami sudah harus menuju daerah masing-masing. Namun, cuaca di Lombok sedang tidak bersahabat, hujan badai pun merobohkan beberapa tenda kami. Akhirnya kami harus mengangkut barang dan pindah ke tenda yang belum roboh. Dengan badan yang sudah tidak fit ditambah kehujanan, pusing pun kembali disertai hidung tersumbat.

Badan udah lembek, tapi sore ini aku pengen ke Rumah Sasak di Rembitan. Teringat masih tersisa 3 kapsule MIXAGRIB, tanpa lama-lama aku menelan 1 kapsule dan dilanjutkan tidur di Mobil yang mengangkut menuju Penginapan. Dari lokasi camp menuju penginapan  sekitar 1,5 jam, waktu yang cukup lumayan untuk merebahkan tubuh.


Setelah check in hotel dan meletakan barang, akupun menuju Rumah Sasak di Desa Rembitan yag jaraknya hanya sekitar 20 menit dari penginapan.  



menenun menggunakan alat tradisional
Menurut cerita ibu-ibu yang mengajari saya, setiap gadis di Suku Sasak diwajibkan belajar untuk menenun. Sehingga akan di temui  banyak sekali hasil tenun yang dijual  kepada pengunjung yang datang ke desa tersebut.

Perjalanan terjauh kali ini terselamatkan dengan doa serta MIXAGRIB yang saya temukan tidak sengaja dan ternyata menjadi teman serta penyambung perjalananku.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Mencari tahu kelebihan sebagai Kekuatan

ZERO WASTE CHALENGGE , dimulai dari dirimu

Hidup bahagia ? kurangin yang nggak penting