Melanjutkan keramahan, mampukah ?


Melanjutkan keramahan, mampukah ?




Dua hari sebelum lebaran, tubuh ini rasanya minta jeda. Perjalanan Jakarta-jogja via kereta menghabiskan waktu 8 jam-an, ditambah harus menginap di luar bandara untuk menunggu flight pagi, rasanya badan ini makin tua tidak tahan dengan angin malam. Sok-sokan jadi traveller, tapi seneng. Namun, mana bisa jeda. Tradisi lebaran sudah tia,  berkumpul dengan sanak keluarga setahun sekali. Rute perjalanan masih sama, setelah solat ied mampir kerumah sarapan dilanjutkan mengunjungi rumah mbah (orang tua Ibu). Di sana sudah berkumpul anak, cicit, dari 6 ber anak menghasilkan satu ruang tamu penuh, udah kayak satu RT.

Kemudian, pulang kerumah untuk acara halal bihalal di masjid dengan tetangga sekitar. Sudah berpuluh kali jabat tangan, ada yang terisak tapi nggak sedikit yang kipas-kipas pakai tangan menghalau panasnya bumi, membuat keringat bercucuran membahasi baju baru, iya nggak ? Belum usai, rute dilanjutkan kerumah mbah (orangtua dari bapak). Bapak anak pertama dari 8 bersaudara, tapi beda. Keluarga bapak menerapakan program KB, rata-rata anaknya 2. Suasana lebaran di tempat Bapak belum seramai di tempat ibu karena belum ada cicit-cicit.

Lebaran kali ini sudah pasti ada yang hilang dan datang. Dimas, sudah dua kali tidak ikut lebaran di rumah, menjaga yang lebaran. Mbah laki-laki (orangtua ibu) sudah empat kali lebaran tidak di rumah, dijemput Tuhan duluan. Mbah perempuan (orangtua bapak) tahun ini pertama kali kami kehilangan, diantarkan menemui Tuhan lewat sakit. Bude (kakak ibu) sudah lama dipanggil Tuhan, jadi kangen kalau main kerumahnya pasti ditanyain " pengen makan apa ?" . Senengnya makin banyak sepupu, keponakan yang masih imut-imut menambah keriuhan suasana lebaran. Ya tapi, aku hanya jadi orang asing di depan mereka (pulang setahun sekali). Tapi, itu nggak seberapa ada yang sampai bilang, "emang Dimas punya adik ya ?". Yha maap saya tdak tenar. Namun tak apa, ritme kehidupan kan gitu. Belajar menerima dan melepaskan.

Sebenarnya, masih ada yang harus dikunjungi. Rumah pakde, bude. Dayanya yang nggak kuat harus dcas dulu. Sampai rumah, jadi upik abu. Tamu-tamu, mengetuk pintu lalu menghilang lewat waalaikumsalam. Tradisi lebaran di kelurgaku, masak sajian kayak soto, opor, rending, dendeng dan ketupat. Makanan favorite lebaran kalian yang mana ? Aku sudah tentu menyambar ketupat yang disantap bersama opor dan tak lupa dendeng. Kami merupakan suku Jawa, namun karena sudah lama hidup di Sumatra rasanya Lidah Sumatra sudah menata di setiap sudut lidah ini. Tiap menit meracik soto lalu mengantarkan. Sampai malam baru berhenti. Esoknya, harapku tidak banyak yang datang. Dasar tidak bersosialisasi banget aku. Masih aja ada yang datang, untungnya tidak ada persotoan lagi. Paling hanya teh atau kopi.

Teman, karyawan dan yang dianggap kerabat dari Bapak dan Ibu memang lumayan banyak. Setiap menit harus melayani tamu yang berbeda-beda, membagikan canda tawa dan keramahan. Lalu menyelipkan THR pada anak-anak mereka. Lalu, aku hanya duduk. Sebagai orang yang jarang pulang kadang nggak ngerti apa yang akan dibahas dan lebih-lebih siapa mereka, saya tidak  kenal. Cenderung tidak mudah untuk berkenalan ataupun membuka candaan dengan orang baru kenal. Pola kehidupan kota juga ngebuatku menjadi orang yang nggak kenal basa-basi, kalau tamunya bilang nggak usah, ya nggak saya bikinin tehnya wkwkw.

Ketika duduk di depan rumah, saya terpikir. Akankah mampu melanjutkan keramahan ibu bapak nantinya ?

Comments

Popular posts from this blog

Mencari tahu kelebihan sebagai Kekuatan

Hidup bahagia ? kurangin yang nggak penting

Little seoulnya Jogja